BELITUNG|Sorotankasus.id – , Langkah Zhafif Al Azzam, petinju muda berbakat asal Koba, harus terhenti di ajang Piala Danlanud Belitung. Menghadapi lawan dengan jam terbang tinggi di babak awal, Zhafif harus mengakui keunggulan lawan setelah hantaman keras di bagian rusuk membuatnya tak mampu melanjutkan pertandingan.
Zhafif harus menerima kenyataan pahit bertemu dengan petinju kelas nasional, Ilham Tapajati, di babak penyisihan. Ilham bukanlah nama baru di dunia tinju regional maupun nasional; ia merupakan atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) yang tercatat pernah mewakili Bangka Belitung dalam dua edisi PON yang berbeda.
Meski harus “mencium kanvas”, keberanian Zhafif naik ke ring melawan atlet sekaliber Ilham mendapat apresiasi dari tim pelatih. Dedi Bhutet menyatakan bahwa kekalahan ini adalah hal yang wajar dalam proses pematangan seorang atlet pemula.
”Zhafif adalah petinju pemula dengan ambisi besar untuk menjadi juara. Kekalahan ini wajar karena di awal penyisihan ia langsung berhadapan dengan petinju kelas nasional sekelas Ilham Tapajati,” ujar Dedi.
Mentalitas dan Jam Terbang
Bagi Sasana Tinju Jalanan Koba, pertandingan ini bukan sekadar kalah atau menang, melainkan tentang mengukur sejauh mana kualitas atlet binaan mereka jika disandingkan dengan standar nasional. Dedi menegaskan bahwa tidak ada petinju besar yang tidak pernah merasakan kekalahan.
”Saya tetap memberikan dukungan penuh kepada Zhafif karena dia telah menunjukkan keberanian luar biasa di atas ring. Ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga karena bisa merasakan langsung bagaimana kualitas dan tekanan bertanding melawan atlet elit,” tambahnya.
Kekalahan ini dipandang sebagai evaluasi penting bagi karier Zhafif ke depan. Tim pelatih menekankan bahwa jika Zhafif ingin berkembang dan mencapai level yang lebih tinggi, ia harus disiplin dalam berlatih agar mampu melampaui kualitas lawan yang ia hadapi saat ini.
Meski Zhafif gagal melaju, semangat dari Sasana Koba tetap terjaga seiring dengan keberhasilan rekan setimnya, Niken Amanda, yang sebelumnya telah memastikan diri lolos ke babak final di kelas 46-48 kg elite putri.
Pertarungan di Belitung ini menjadi potret dinamika pembinaan tinju di Bangka Tengah yang terus berupaya melahirkan regenerasi atlet meskipun harus melewati ujian yang berat.

















